Jakarta Biennale 2017: Mengenal Ekspresi Jiwa di Dalam Gudang
Dengan tema "Jiwa" kali ini Jakarta Biennale memperkenalkan kita dengan ekspresi jiwa yang menari di atas kebebasan. Jiwa sebagai identitas, sejarah kesenian, sistem kepercayaan hingga ujung batas-batas kebebasan.

Eceng Gondok Berbunga Emas karya Siti Adiyati

Eceng Gondok Berbunga Emas karya Siti Adiyati

Sebuah tanaman eceng gondok berbunga mawar plastik berwarna emas ini menggambarkan jarak antara kaum miskin dan kaya yang semakin jelas. Karya tersebut melambangkan kegemaran kalangan atas Jakarta dengan bunga mawar plastik di saat kaum miskin kesulitan membeli sekilo beras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Karya buah tangan Siti Adiyati ini pertama kali dipamerkan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta tahun 1979.

The World will Surely Collapse, Trying to Rememer a Tree karya Robert Zhao Renhui

The World will Surely Collapse, Trying to Rememer a Tree karya Robert Zhao Renhui

Panel gambar terpisah ini menggambarkan kerusakan bumi yang semakin parah karena paru-paru yang semakin lumpuh. Sesuai jugul potongan foto tersebut, ironi ini dapat menghancrkan bumi dengan seisi makhluk hidupunya.

Memakai.Dipakai oleh Abdi Karya

Memakai.Dipakai oleh Abdi Karya

Dalam gambar nampak seorang performans yang sedang meliput kain yang seolah berbicara tentang tradisi yang beku tapi diagung-agungkan tanpa dimanfaatkan sebagai panduan untuk memahami realitas masa kini. Karya hasil Abdi ini terinspirasi dari adat istiadat pemikiran dan filsafat suku Bugis.

Begawan Solo karya Arin Rungjang

Begawan Solo karya Arin Rungjang

Kali ini Arin seolah ingin mengajak pengunjung menikmati karyanya dengan masuk ke dalam satu ruangan gelap yang diisi dengan instalasi video HD tujuh kanal, audio seni performans musik keroncong oleh para pemain musik dan penyanyi Rachel saraswati. Di dalam ruangan tersebut juga ada layar LCD proyektor yang menampilkan narasi pengalaman pribadinya terhadap lagu "Begawan Solo". Menurutnya, suatu makna dapat berubahubah seiring berjalannya waktu dan kisah yang tak terduga. Hal tersebut terlihat dari tampilan para pemusik yang dipisah per bagiannya, namun mereka semua tergabung untuk memainkan satu lagu "Begawan Solo".

YOUR REACTION?


You may also like

Facebook Conversations